Khutbah Jumat “Jangan Sampai Jabatan dan Harta Melalaikan Kita”
Khatib : Diary Primamrenalto,S.Ag
Khutbah Jumat: Jangan Sampai Jabatan dan Harta Melalaikan Kita
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu bentuk ketakwaan adalah bagaimana kita menempatkan dunia secara proporsional. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci dunia, apalagi meninggalkan kemajuan. Seorang muslim justru dianjurkan bekerja, membangun usaha, mengembangkan ilmu, meningkatkan kesejahteraan, dan memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kemajuan dunia membuat kita lupa kepada tujuan hidup sebagai seorang muslim.
Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
Artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba-lomba memperbanyak harta dan anak keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan larangan untuk menjadi kaya, memiliki kedudukan, atau menikmati kemajuan. Ayat ini hendak memperingatkan ketika sesuatu yang semestinya menjadi sarana kehidupan berubah menjadi ukuran keberhasilan dan kebanggaan diri.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam konteks kehidupan kita, perlombaan dunia tidak selalu berbentuk harta. Ada pula perlombaan mendapatkan jabatan, kekuasaan, pengaruh, fasilitas, dan kehormatan. Jabatan yang semestinya menjadi sarana untuk mengabdi kepada masyarakat dapat berubah menjadi sesuatu yang diperebutkan karena di dalamnya terdapat berbagai keuntungan: kewenangan, fasilitas, akses, penghormatan, dan pengaruh.
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Seseorang mungkin awalnya ingin menjadi pejabat karena ingin berbuat baik. Tetapi setelah memperoleh jabatan, ia mulai menikmati fasilitasnya. Kemudian, ia merasa nyaman dengan kekuasaannya.
Setelah itu muncul keinginan mempertahankan posisi, mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi, memperluas pengaruh, atau menempatkan orang-orang terdekat di sekitar kekuasaan. Tanpa disadari, tujuan pengabdian dapat bergeser menjadi kepentingan mempertahankan kekuasaan.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Inilah yang perlu kita renungkan dari konsep tafakhur (berbangga-bangga) dan takāṡur (berlomba memperbanyak). Manusia bukan hanya bisa berlomba dalam mengumpulkan uang, tetapi juga dapat berlomba dalam memperoleh sesuatu yang membuat dirinya tampak lebih tinggi daripada orang lain.
Dalam kehidupan pejabat, bentuknya bisa sangat konkret. Misalnya, jabatan yang semestinya cukup untuk menjalankan tugas justru dipandang sebagai kesempatan mendapatkan fasilitas yang lebih banyak.
Kedudukan yang semestinya digunakan untuk melayani justru dijadikan simbol status. Pengaruh yang semestinya dipakai untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat justru digunakan untuk membangun jaringan kepentingan pribadi dan kelompok.
Bukan berarti setiap pejabat demikian. Banyak pula orang yang memegang jabatan dengan sungguh-sungguh, sederhana, dan berusaha memberikan manfaat. Karena itu, persoalannya bukan pada jabatan itu sendiri, melainkan apa yang dilakukan terhadap jabatan yang dimiliki dan terhadap hatinya.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Karena itu, siapa pun yang sedang memegang jabatan hendaknya menjadikan kekuasaannya sebagai kesempatan untuk memberikan manfaat, bukan kesempatan memperbesar kebanggaan diri. Dan siapa pun yang belum memegang jabatan, hendaknya tidak menjadikan jabatan sebagai ukuran kemuliaan. Sebab, seorang muslim boleh mengejar kemajuan dunia, tetapi ia harus tetap tahu kapan dunia menjadi sarana dan kapan dunia mulai berubah menjadi tujuan.
Semoga Allah memberikan kepada para pemegang jabatan hati yang bersih, menjauhkan mereka dari kecintaan berlebihan terhadap kekuasaan dengan segala fasilitasnya, serta menjadikan kita orang-orang yang mampu menggunakan dunia tanpa diperbudak olehnya, memiliki harta tanpa diperbudak harta, dan memegang jabatan tanpa diperbudak kekuasaan.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ. إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ التَّوْفِيقَ وَالسَّدَادَ فِي جَمِيعِ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَخِيْرُونَكَ فِي أُمُوْرِهِمْ، وَيَرْضَوْنَ بِقَضَائِكَ وَقَدَرِكَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
