• Hidup itu singkat “Hanya selama menunggu dari waktu sholat ke waktu sholat yang lain”
Kamis, 20 Agustus 2026

KhutbahJumat:HikmahMengingatKematiandalamIslam

KhutbahJumat:HikmahMengingatKematiandalamIslam
Bagikan

Khotip: Diary Primsmrenalto, S.Ag Jum’at 17 Juli 2026

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَ وَالْجِنَّ لِيُكَلِّفَهُمْ أَنْ يُوَحِّدُوْهُ وَيَعْبُدُوْهُ وَيُقَدِّسُوْهُ وَيُمَجِّدُوْهُ وَيَشْكُرُوْهُ وَلَا يَكْفُرُوْهُ وَيُطِيْعُوْهُ وَلَا يَعْصُوْهُ وَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ رَسُوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُعَزِّرُوْهُ وَيُوَقِّرُوْهُ وَيُطِيْعُوْهُ وَيَنْصُرُوْهُ فَأَمَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ بِكُلِّ بِرٍّ وَإِحْسَانٍ وَزَجَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ عَنْ كُلِّ إِثْمٍ وَعُدْوَانٍ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ خَيْرِ الْمُوَحِّدِيْنَ وَالْمُسَبِّحِيْنَ وَالْحَامِدِيْنَ وَالْعَابِدِيْنَ وَالسَّائِحِيْنَ أَعْرَفِ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ بِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ عِلْمًا وَعَمَلًا وَكَمَالًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sebab ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan hidup di dunia dan penentu kebahagiaan kita di akhirat kelak.

Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 185:

لُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S. Ali Imran [3]: 185).

Ayat di atas mengajarkan kita bahwa tak satu pun manusia dapat hidup kekal di dunia ini. Tanpa memandang ia dari kalangan rakyat jelata yang miskin, maupun kalangan orang kaya dan para raja. Bahkan, walau sebesar dan sekuat apa pun pengaruhnya.

Karena itu, sangat penting kita mengingat hakikat diri yang diciptakan dari ketiadaan dan akan kembali menuju ketiadaan dalam bentuk kematian.

Sehingga, salah satu perintah penting yang pernah disampaikan Baginda Nabi Muhammad SAW kepada umatnya adalah perintah untuk memperbanyak mengingat kematian. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘ anhu, sebagaimana dicatat oleh Imam Ibnu Abi ad-Dunya (w. 281 H) dalam kitabnya Dzikr al-Maut halaman 81, Nabi SAW bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ الْمَوْتِ؛ فَإِنَّهُ يُمَحِّصُ الذُّنُوبَ، وَيُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنْ ذَكَرْتُمُوهُ عِنْدَ الْغِنَى هَدَمَهُ، وَإِنْ ذَكَرْتُمُوهُ عِنْدَ الْفَقْرِ أَرْضَاكُمْ بِعَيْشِكُمْ

Artinya, “Perbanyaklah mengingat kematian; karena sesungguhnya ia membersihkan dosa-dosa dan menumbuhkan sikap zuhud terhadap dunia. Jika kamu mengingatnya saat dalam kekayaan, ia akan menghancurkan kecintaan pada kekayaan itu; dan jika kamu mengingatnya saat dalam kefakiran, ia akan membuatmu ridha dengan hidupmu.”

Hadits ini adalah salah satu kunci spiritual yang luar biasa. Ia menegaskan bahwa mengingat kematian bukan sekadar pemantik kesedihan atau latihan berputus asa dari dunia. Justru sebaliknya, ia adalah terapi jiwa yang bekerja secara berbeda sesuai kondisi kita.

Saat kita dalam kenikmatan, ingat mati menghancurkan keangkuhan dan keserakahan. Saat kita dalam kesempitan, ingat mati menanamkan rasa syukur dan ridha. Inilah keseimbangan iman yang sempurna yang Islam tawarkan kepada setiap Muslim.

Jama’ah Jum’ah yang di rahmati oleh Allah

Betapa kaya dan nyata manfaat yang diuraikan oleh Ibnu al-Kharrath. Mengingat mati bukan soal menekuk wajah dalam kesedihan berkepanjangan. Ia adalah latihan spiritual yang mengubah cara pandang secara menyeluruh, yaitu kita melihat dunia lebih proporsional, memandang akhirat lebih serius, dan menghadapi ujian hidup dengan dada yang lebih lapang. Bahkan Ibnu al-Kharrath memberikan catatan penting bahwa mengingat mati yang sesungguhnya harus benar-benar dihadirkan dan terpatri dalam hati, bukan sekadar gerakan lisan yang kosong.

Imam Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab yang sama juga mencatat sebuah hadits riwayat Abu Abdurrahman al-Hubliy radhiyallahu ‘ anhu, Rasulullah SAW bersabda, “cukuplah kematian menjadi pemisah”.

Setiap perpisahan yang menyakitkan di dunia ini, dari orang-orang yang kita cintai, dari harta yang kita kumpulkan, dari jabatan yang kita banggakan, semuanya hanyalah latihan kecil sebelum perpisahan terbesar, yakni kematian. Maka seorang Muslim yang terbiasa mengingat mati tidak akan mudah hancur oleh perpisahan-perpisahan kecil itu, karena ia telah melatih hatinya untuk tidak terlalu bergantung pada apa pun yang fana.

Dari semua uraian di atas, hikmah mengingat kematian sungguh tak ternilai, ia membersihkan jiwa dari dosa, menjernihkan pandangan dari tipu daya dunia, melatih hati agar tidak bergantung pada yang fana, dan mempersiapkan kita untuk menghadap Allah dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Orang yang cerdas sejati bukan yang paling banyak hartanya atau paling tinggi jabatannya, melainkan yang paling sering mengingat kematian dan paling sungguh-sungguh mempersiapkan diri menyambutnya.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَأَدَّبَ وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَدَّبَهُ رَبُّهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمُتَمِّمِيْنَ اتِّبَاعَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلَيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

SebelumnyaKutbah Jumat Menjaga Diri dan Keluarga dari Bahaya yang Menghancurkan Iman dan KehidupanSelanjutnyaKhutbah Jum'at 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐚𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡
Masjid AtTaqwa
Jl. Mayangsari Rt. 15 RW. 2, Kelurahan Kalipancur, Kec. Ngaliyan, Kota Semarang
Luas Area240 m2
Luas Bangunan230 m2
Status LokasiIndonesia
Tahun Berdiri1987