• Hidup itu singkat “Hanya selama menunggu dari waktu sholat ke waktu sholat yang lain”
Kamis, 3 September 2026

Khutbah Jum’at: MENGHADIRKAN CAHAYA KENABIAN DALAM SETIAP SENDI KEHIDUPAN

Khutbah Jum'at: MENGHADIRKAN CAHAYA KENABIAN DALAM SETIAP SENDI KEHIDUPAN
Bagikan

Khatib: Supriyadi Jum’at 14 Agustus 2026

KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

​Hadirin jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah,

​Alhamdulillah, kita mengawali pertemuan Jumat ini dengan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara sekian miliar hamba Allah yang berkehidupan di muka bumi, dan di antara sekian banyak yang menyatakan dirinya beriman, kita masih diberikan hidayah, diberikan kesempatan oleh Allah sampai detik ini untuk membuktikan keberimanan kita dengan menunaikan ibadah shalat Jumat berjamaah.

​Namun hadirin, mari kita sejenak menundukkan pandangan. Mari kita bertafakur dan menatap ke relung jiwa kita yang paling dalam. Raga kita siang ini hadir di rumah Allah, mengenakan pakaian terbaik, lisan kita melantunkan dzikir. Tapi mari kita jujur pada Dzat Yang Maha Mengetahui… Jangan-jangan sampai Jum’at ini, sampai hari ini, bahkan sampai detik ini di tempat yang mulia ini kita masih bermaksiat kepada Allah SWT. Kita mengaku umat Nabi Muhammad, tapi di rumah tangga kita masih sering berlaku kasar. Kita mengaku rindu surga, tapi di tempat kerja kita masih mencuri hak orang lain. Tangan kita, mata kita, lisan kita masih sering digunakan untuk merobek kehormatan saudara kita. Astaghfirullahal ‘adzim.

​Hadirin yang dirahmati Allah,
Jumat ini menjadi Jumat yang spesial di antara sekian Jumat yang kita lalui, karena bertepatan dengan bulan Rabiul Awal; bulan yang dicatat oleh para ulama ahli sejarah sebagai bulan dilahirkannya manusia paling paripurna, Nabi Muhammad ﷺ.

​Tetapi perhatikan baik-baik. Yang paling esensial dari peristiwa Maulid ini bukanlah semata pada tanggal atau bulannya. Yang paling agung adalah cahaya yang dibawa oleh kelahiran beliau. Cahaya berupa pedoman hidup (hudan) yang menjadi solusi atas seluruh problematika kehidupan kita, di segala zaman!

​Coba kita lacak di dalam Al-Qur’an. Buka Surah ke-7, Al-A’raf, ayat ke-157. Jauh sebelum Nabi Muhammad lahir, Allah sudah memviralkan keistimewaan beliau di dalam Taurat dan Injil:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ…
​”(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar…” (QS. Al-A’raf: 157).

​Perhatikan diksi Al-Qur’an. Sifat “Ummi” yang melekat pada Nabi bukanlah sebuah kekurangan. Justru itu adalah penegasan mukjizat kerasulan! Allah mendesain beliau tidak belajar di sekolah formal dan tidak diajari oleh manusia, untuk membuktikan bahwa seluruh kecerdasan, adab, dan syariat yang beliau bawa 100% bersumber langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau langsung dididik oleh Sang Pencipta!
​Itulah mengapa hanya Nabi Muhammad ﷺ satu-satunya nabi yang rekam jejak keteladanannya teramat lengkap. Nabi Isa alaihissalam mulia dengan ajaran kasih sayangnya, tapi beliau tidak menikah, sehingga tidak bisa menjadi teladan sempurna bagaimana menjadi seorang suami atau ayah. Nabi Sulaiman alaihissalam adalah raja yang sangat kaya, tapi bagaimana rakyat biasa mau mencontohnya?

​Sedangkan Nabi Muhammad ﷺ, beliau mewakili seluruh spektrum kehidupan! Ingin jadi ayah yang baik? Ada contohnya pada diri Nabi. Ingin jadi pedagang sukses dan jujur? Nabi ahlinya. Ingin jadi panglima, pemimpin negara, hingga menjadi seorang tetangga yang ramah? Seluruhnya bermuara pada diri beliau. Allah menegaskan legalitas keteladanan ini dalam Surah ke-33, Al-Ahzab ayat 21:
​لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
​”Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

​Hadirin, pedoman (cahaya) inilah yang merubah manusia. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad:
​إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
​”Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad).

​Bila kita mengikuti pedoman yang ma’ruf (baik) dan meninggalkan yang mungkar (buruk), niscaya kita akan menjadi pribadi yang Muflihun—sukses dan bahagia. Silakan Anda riset! Sekitar 12.000 sahabat Nabi yang hidup dan tersentuh oleh cahaya ajaran beliau, tidak ada satu pun yang tidak sukses dan bahagia hidupnya!

​Mari kita lihat satu contoh nyata. Sahabat mulia, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Di masa Jahiliyah, sebelum cahaya Islam masuk, sejarah mencatat betapa keras dan kelamnya karakter beliau. Beliau terbiasa dengan khamr, kekerasan, bahkan budaya Jahiliyah merasuki hidupnya. Namun, ketika cahaya Al-Qur’an (Surah Thaha) menyentuh hatinya, Umar berhijrah total!
​Cahaya pedoman Nabi ﷺ mengubah Umar dari sosok pemarah menjadi pemimpin (Amirul Mukminin) yang keadilannya diakui dunia. Begitu takut dan tawadhu’-nya Umar, hingga di suatu malam yang dingin, beliau rela memanggul sendiri karung gandum untuk seorang janda miskin dan anak-anaknya yang kelaparan. Sambil menangis, Umar berkata,
“Celakalah engkau wahai Umar, jika kelak di akhirat Allah menghisabmu karena ada umat di bawah kepemimpinanmu yang kelaparan!”

​Allahu Akbar! Inilah hasil dari pendidikan Rasulullah ﷺ.

​Maka pertanyaannya hari ini: Sudahkah cahaya pedoman Nabi itu masuk ke dalam ruang tamu kita? Ke dalam kamar anak-anak kita? Ke dalam ruang-ruang kantor kita?

​Hadirin, puncak dari peringatan Maulid bukanlah sekadar seberapa meriah kita merayakannya, tapi seberapa kuat kita mengamalkan sunnahnya. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira kepada kita dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi:
​مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ
​”Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam surga.” (HR. Tirmidzi).

​Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melembutkan hati kita untuk mau berhijrah, membimbing langkah kita agar istiqomah menghidupkan sunnah-sunnah Nabi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kelak di Padang Mahsyar, kita benar-benar diakui sebagai umatnya dan berhak mendapatkan syafaat dari tangan beliau yang mulia.
​بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
​KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ الْمَصَابِيحِ الْغُرِّرِ، خُصُوصًا مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ، مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ، وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ الدُّنْيَا دَارُ مَمَرٍّ لَا دَارُ مَقَرٍّ، فَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى لَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
​اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ.
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَى سُنَّةِ نَبِيِّكَ، وَأَحْيِنَا عَلَيْهَا، وَأَمِتْنَا عَلَيْهَا، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ وَتَحْتَ لِوَائِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. اَللَّهُمَّ أَوْرِدْنَا حَوْضَهُ، وَاسْقِنَا مِنْ يَدِهِ الشَّرِيفَةِ شَرْبَةً هَنِيئَةً مَرِيئَةً لَا نَظْمَأُ بَعْدَهَا أَبَدًا.
​اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
​رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
​عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.

SebelumnyaKhutbah Jum'at: "5 Dosa yang Sering diremehkan, tetapi Berat Pertanggungjawabannya"SelanjutnyaKhutbah Jumat: Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah?
Masjid AtTaqwa
Jl. Mayangsari Rt. 15 RW. 2, Kelurahan Kalipancur, Kec. Ngaliyan, Kota Semarang
Luas Area240 m2
Luas Bangunan230 m2
Status LokasiIndonesia
Tahun Berdiri1987