• Hidup itu singkat “Hanya selama menunggu dari waktu sholat ke waktu sholat yang lain”
Minggu, 1 November 2026

Khutbah Jum’at 3 Nasehat Penyebab Kemarau Panjang Yang Wajib Kita Renungkan

Khutbah Jum'at 3 Nasehat Penyebab Kemarau Panjang Yang Wajib Kita Renungkan
Bagikan

Khatib. H. Istiyadi, S.Pd Jum’at 09 Oktober 2026

Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Pada momentum khutbah Jumat kali ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan berbagai nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita. Di antara nikmat Allah yang sangat besar, tetapi sering kita lupakan adalah nikmat air terhadap musim kemarau saat ini.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Saat ini kita sedang menghadapi musim kemarau. Di sejumlah tempat, hujan semakin jarang turun. Sumber-sumber air mulai berkurang, sumur mulai mengering, tanah menjadi tandus dan sebagian masyarakat mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. tanah yang lama tidak disentuh hujan, Retak-retak, pecah, keras, dan tanaman di atasnya layu satu per satu

Hari ini, mari bersama-sama merenungkan tiga nasehat yang disebutkan para ulama sebagai sebab-sebab tertahannya hujan dari langit—sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan: “mulailah dari dirimu sendiri.”

Nasehat Pertama: Kemarau Hati Sebelum Kemarau Bumi

Jamaah yang dicintai Allah,

Sering kali kita menangisi tanah yang mengering, tetapi kita lupa menangisi hati kita yang sudah lama gersang. Bumi menahan airnya karena langit menahan rahmatnya, dan langit menahan rahmatnya karena hamba-hamba di bumi telah berpaling dari-Nya.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengingatkan kita dalam surah Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Perhatikan penutup ayat tersebut: “agar mereka kembali.”

Bencana dan kemarau ini bukanlah tanda Allah benci, melainkan teguran kasih sayang. Seperti seorang ibu yang mencubit kecil anaknya ketika sang anak berlari menuju jurang, cubitan itu menyakitkan, tetapi tujuannya adalah menyelamatkan.

Nasehat Kedua: Lupa Bersyukur dan Enggan Berbagi

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ketika hati telah mengering, kita sering kali lupa bersyukur atas nikmat yang melimpah. Saat air mengalir deras dari keran rumah kita, pernahkah kita mengucap Alhamdulillah dengan tulus? Atau kita baru menyadari betapa berharganya setetes air ketika keran itu mengering dan sumur tak lagi meneteskan airnya?

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengingatkan dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah:

وَلَمْ يَمْنَعُوْا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوْا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوْا

Artinya: “Dan tidaklah suatu kaum menahan zakat harta mereka, melainkan ditahan pula untuk mereka hujan dari langit. Seandainya bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan.”

Lihatlah betapa dalamnya pesan Rasulullah ini. Kadang-kadang, hujan diturunkan bukan karena kesalehan manusia, melainkan karena rasa kasihan Allah kepada hewan-hewan yang kehausan di padang pasir. Betapa malunya kita sebagai manusia, yang diberi akal dan harta, namun enggan mengeluarkan hak fakir miskin.

Ibn Ata’illah As-Sikandari dalam kitab Al-Hikam memberikan hikmah yang sangat indah tentang syukur:

“Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat, maka ia telah bersiap untuk kehilangannya. Dan barang siapa yang mensyukurinya, berarti ia telah mengikat nikmat itu dengan tali yang kuat.”

Kemarau panjang mengajari kita untuk kembali membumi. Harta yang kita kumpulkan tidak bisa membeli setetes hujan. Jabatan yang kita banggakan tidak bisa memanggil awan mendung. Di hadapan kemarau, kita semua sama: hamba yang sangat butuh dan lemah di hadapan Allah.

Nasehat Ketiga: Pintu Istighfar yang Terlupakan

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Lantas, jika bumi sudah mengering dan langit tak kunjung menurunkan airnya, ke mana kita harus berlari? Jawabannya sederhana: kembali memohon ampun kepada-Nya.

Lihatlah sejarah orang-orang saleh sebelum kita. Umar bin Khattab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ pernah keluar bersama kaum muslimin untuk melakukan salat Istisqa (memohon hujan). Di atas mimbar, beliau tidak memperbanyak doa-doa yang rumit, melainkan terus-menerus membaca istighfar hingga air matanya menetes. Ketika ditanya mengapa beliau hanya membaca istighfar, Umar menjawab: “Aku telah memohon hujan dengan kunci-kunci langit yang paling kuat.”

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengabadikan janji-Nya dalam surah Nuh ayat 10–12:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ۝

Artinya: “Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan taman-taman untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.'”

Istighfar adalah kunci pembuka pintu rahmat. Ketika dosa-dosa kita menumpuk menjadi dinding penghalang antara kita dan rahmat Allah, maka istighfar adalah gergaji yang meruntuhkan dinding tersebut.

Buya Hamka pernah merenungkan hal ini dalam karyanya dengan kalimat yang sangat menyentuh:

“Air mata taubat yang menetes karena menyesali dosa di tengah malam, lebih mampu memadamkan api kemurkaan Allah daripada lautan air di bumi.”

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

mari kita bertanya kepada diri sendiri, bukan kepada orang lain: sudahkah tangan ini bersih dari hak orang lain yang tertahan? Sudahkah timbangan hidup ini jujur, dalam pekerjaan, dalam janji, dalam amanah? Dan sudahkah hati ini masih memiliki rasa malu kepada Allah, ataukah rasa malu itu sudah mulai memudar?

Ingatlah, jamaah sekalian, hujan yang paling ditunggu bukan hanya hujan dari langit, tetapi hujan rahmat yang turun ke dalam hati yang mau bertaubat

. Dan hujan itu, tidak pernah terlambat turun bagi siapa saja yang mau mengangkat kedua tangannya dengan sungguh-sungguh.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

SebelumnyaKhutbah Jum'at "Menghargai Perbedaan Mazhab dan Mendahulukan Akhlak"SelanjutnyaKhutbah Jum'at "MARI BERPARTISIPASI MELESTARIKAN BUMI"
Masjid AtTaqwa
Jl. Mayangsari Rt. 15 RW. 2, Kelurahan Kalipancur, Kec. Ngaliyan, Kota Semarang
Luas Area240 m2
Luas Bangunan230 m2
Status LokasiIndonesia
Tahun Berdiri1987