• Hidup itu singkat “Hanya selama menunggu dari waktu sholat ke waktu sholat yang lain”
Jumat, 4 September 2026

Khutbah Jum’at MAULID NABI ﷺ: MENCINTAI RASULULLAH DAN KEUTAMAAN BERSHALAWAT

Khutbah Jum’at MAULID NABI ﷺ: MENCINTAI RASULULLAH DAN KEUTAMAAN BERSHALAWAT
Bagikan

Khatib: 𝐌𝐨𝐜𝐡.𝐘𝐮𝐥𝐢𝐡 𝐅𝐚𝐢𝐫𝐝𝐢𝐲𝐚𝐧, 𝐒.𝐒.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bulan Rabiul Awal mengingatkan kita kepada sebuah peristiwa yang sangat besar dalam sejarah umat manusia, yaitu kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bukan sekadar seorang manusia yang lahir di Makkah, tetapi beliau adalah Rasul yang diutus Allah untuk membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kesyirikan menuju tauhid, dan dari akhlak yang buruk menuju akhlak yang mulia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ ﴾

“Sungguh, Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.”

(QS. Ali ‘Imran: 164)

Karena itu, memperingati atau mengingat kelahiran Nabi ﷺ seharusnya tidak berhenti pada acara, ceramah, ataupun lantunan shalawat. Yang lebih penting adalah: apakah setelah mengenal Rasulullah kita semakin mencintai beliau dan semakin berusaha mengikuti ajarannya?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mengapa kita harus mencintai Rasulullah ﷺ?

Pertama, karena mencintai Rasulullah merupakan bagian dari kesempurnaan iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ »

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar ucapan. Cinta kepada beliau harus dibuktikan dengan mengikuti sunnahnya, menaati ajarannya, menghormati beliau, serta berusaha meneladani akhlaknya.

Kalau kita benar-benar mencintai Rasulullah, maka kita akan mencintai apa yang beliau cintai.

Beliau mencintai kejujuran, maka kita belajar menjadi orang jujur.

Beliau mencintai kasih sayang, maka kita tidak mudah menyakiti orang lain.

Beliau mencintai anak-anak, orang miskin, dan orang-orang lemah, maka kita belajar peduli kepada mereka.

Beliau menjaga lisannya, maka kita pun harus berhati-hati dengan ucapan.

Beliau memaafkan orang yang menyakitinya, maka kita belajar untuk tidak menyimpan dendam.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bukti cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah mengikuti beliau.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴾

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Ali ‘Imran: 31)

Maka jangan hanya mengatakan, “Aku mencintai Nabi Muhammad ﷺ.”

Mari kita tanyakan kepada diri kita:

Apakah kita sudah mengikuti shalat beliau?

Apakah kita sudah meneladani kejujuran beliau?

Apakah kita sudah mengikuti akhlak beliau?

Apakah kita sudah menjaga lisan sebagaimana beliau menjaga lisannya?

Apakah kita sudah menyayangi keluarga, tetangga, dan sesama sebagaimana Rasulullah mengajarkan kasih sayang?

Inilah cinta yang sesungguhnya.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di antara bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ adalah memperbanyak shalawat.

Allah sendiri memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi ﷺ.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

(QS. Al-Ahzab: 56)

Perhatikan ayat ini. Allah menyebut bahwa Dia dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi ﷺ, kemudian Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau.

Betapa mulianya amalan shalawat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا »

“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.”

(HR. Muslim)

Satu shalawat dari seorang hamba dibalas dengan sepuluh rahmat dari Allah.

Maka jangan merasa rugi ketika kita memperbanyak shalawat. Kita tidak sedang memberikan sesuatu kepada Rasulullah yang beliau butuhkan. Justru kitalah yang membutuhkan keberkahan, rahmat, dan kecintaan Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa orang yang paling dekat dengan beliau pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadanya.

Beliau bersabda:

« أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً »

“Manusia yang paling utama dan paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.”

(HR. Tirmidzi)

Bayangkan, jamaah sekalian.

Pada hari ketika manusia membutuhkan pertolongan dan keselamatan, kita berharap termasuk orang-orang yang dekat dengan Rasulullah ﷺ.

Maka mari kita biasakan lisan kita dengan shalawat.

Ketika nama Muhammad ﷺ disebut, jangan biarkan berlalu begitu saja.

Ucapkan:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Biasakan bershalawat ketika selesai shalat, ketika berada di perjalanan, ketika memiliki waktu luang, dan di berbagai kesempatan yang baik.

Namun jangan sampai shalawat hanya menjadi ucapan lisan. Shalawat harus melahirkan kecintaan, dan kecintaan harus melahirkan keteladanan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada sebuah pertanyaan penting bagi kita semua:

Apa yang sudah berubah dalam diri kita karena mencintai Rasulullah ﷺ?

Apakah setelah mendengar kisah Rasulullah kita menjadi lebih lembut?

Apakah setelah bershalawat kita menjadi lebih rajin beribadah?

Apakah setelah mengenal akhlak Rasulullah kita menjadi lebih jujur?

Apakah kita menjadi lebih sayang kepada keluarga?

Apakah kita menjadi lebih mudah memaafkan?

Inilah makna Maulid Nabi yang sesungguhnya: menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam kehidupan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ﴾

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”

(QS. Al-Ahzab: 21)

Maka mari kita jadikan momentum Maulid Nabi ﷺ bukan hanya untuk mengenang kelahiran beliau, tetapi untuk menghidupkan sunnah beliau dalam kehidupan kita.

Perbanyak shalawat.

Pelajari sirah beliau.

Ajarkan kisah beliau kepada anak-anak kita.

Kenalkan akhlak beliau kepada generasi muda.

Dan yang paling penting, berusahalah menjadi umat yang benar-benar mengikuti beliau.

Sebab mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya tentang seberapa sering nama beliau kita sebut, tetapi juga tentang seberapa jauh akhlak dan ajaran beliau hadir dalam kehidupan kita.

Semoga setiap shalawat yang keluar dari lisan kita menjadi bukti kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, menjadi sebab turunnya rahmat Allah, dan menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan kedekatan dengan beliau di akhirat kelak.

SebelumnyaKhutbah Jumat: Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah?
Masjid AtTaqwa
Jl. Mayangsari Rt. 15 RW. 2, Kelurahan Kalipancur, Kec. Ngaliyan, Kota Semarang
Luas Area240 m2
Luas Bangunan230 m2
Status LokasiIndonesia
Tahun Berdiri1987